Korban Janji Menagih Semburan-Semburan yang Direncanakan
Langit sore tampak muram ketika Armin duduk di beranda rumahnya yang sudah retak-retak dimakan usia seperti ibu kota yang membiarkan limbah-limbah dari luar negeri. Dari kejauhan terlihat hamparan tanah yang dahulu hijau oleh tanaman padi. Kini tanah itu berubah menjadi lapangan kosong yang dipenuhi genangan air kecokelatan. Sebagian pohon telah mati. Sebagian lainnya berdiri layu seperti menunggu giliran untuk tumbang.
Armin memandang jauh ke arah bekas sawah milik ayahnya.
“Dulu kita hidup dari sana,” katanya pelan.
Di sampingnya, seorang lelaki tua bernama Harim menganggukkan kepala. Wajahnya menyimpan banyak cerita yang tak lagi sanggup diucapkan dengan kata-kata.
“Dan sekarang?” tanya Armin.
Harim tersenyum pahit.
“Sekarang kita hidup dari janji.”
Keduanya terdiam.
Sudah bertahun-tahun warga desa itu mendengar berbagai pernyataan dari para pejabat. Setiap kali datang rombongan kendaraan mewah, setiap kali mikrofon dipasang, setiap kali kamera dinyalakan, selalu ada kalimat yang sama.
“Kammi akan menyelesaikan masalah ini.”
“Kammi akan memberikan kepastian.”
“Kammi akan memperjuangkan hak rakyat.”
“Kammi akan bertanggung jawab.”
Kata “akan” terus bergema dari tahun ke tahun. Namun kenyataan di lapangan seolah berjalan ke arah yang berbeda.
Masyarakat mulai menyebut dirinya sebagai korban janji.
Bukan karena mereka membenci negara.
Mereka justru terlalu mencintainya.
Mereka masih percaya bahwa negara seharusnya hadir untuk melindungi rakyatnya. Mereka masih percaya bahwa keadilan bukan sekadar tulisan di dinding kantor pemerintahan.
Tetapi semakin lama, keyakinan itu diuji oleh waktu.
Di balai desa pada suatu malam, warga berkumpul untuk bermusyawarah. Lampu-lampu sederhana menerangi ruangan yang dipenuhi wajah-wajah letih.
Hadir para petani, pedagang kecil, guru, hingga nelayan yang kehilangan mata pencaharian.
Di tengah ruangan berdiri seorang pemuda bernama Malik.
“Saudara-saudara,” katanya, “berapa kali kita menerima kunjungan pejabat?”
“Sudah tidak terhitung,” jawab seseorang.
“Berapa kali mereka berjanji?”
“Puluhan kali.”
“Berapa kali janji itu dipenuhi?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Bukan karena tidak tahu.
Tetapi karena jawabannya terlalu menyakitkan.
Malik melanjutkan.
“Negeri ini tidak kekurangan pidato. Negeri ini tidak kekurangan slogan. Yang kurang adalah kepastian.”
Seorang ibu bernama Fatimah mengangkat tangan.
“Anak saya lulus sekolah tiga tahun lalu,” katanya. “Katanya akan ada program pemberdayaan ekonomi. Sampai sekarang belum ada. Anak saya akhirnya merantau dan tidak pernah kembali.”
Suasana semakin berat.
Lalu berdiri seorang guru tua bernama Hamdan.
“Masalah terbesar bukan sekadar kerugian ekonomi,” ujarnya. “Masalah terbesar adalah hilangnya kepercayaan. Ketika rakyat terus-menerus dijanjikan sesuatu yang tidak kunjung datang, mereka mulai bertanya apakah suara mereka masih didengar.”
Kata-kata itu menusuk hati semua yang hadir.
Mereka sadar bahwa luka yang mereka rasakan bukan hanya tentang kehilangan lahan, pekerjaan, atau penghasilan.
Mereka kehilangan rasa aman.
Mereka kehilangan keyakinan bahwa penderitaan mereka benar-benar diperhatikan.
Malam itu hujan turun sangat deras.
Air mengalir dari atap-atap rumah.
Suara petir bersahut-sahutan.
Armin berjalan pulang dengan pikiran yang penuh.
Di tengah perjalanan ia melihat anak-anak kecil bermain di genangan air.
Mereka tertawa.
Mereka berlari.
Mereka belum memahami rumitnya persoalan orang dewasa.
Armin berhenti sejenak.
Di wajah anak-anak itu ia melihat harapan.
Harapan yang tidak boleh padam.
Beberapa minggu kemudian, sebuah rombongan pejabat kembali datang ke desa.
Panggung didirikan.
Spanduk dipasang.
Kursi-kursi disusun rapi.
Warga berdatangan dengan perasaan campur aduk.
Sebagian berharap dan sedikit ragu.
Sebagian lagi hanya ingin mendengar apa yang akan dikatakan.
Seorang pejabat naik ke atas podium.
Pidatonya panjang.
Ia berbicara tentang pembangunan.
Tentang kemajuan.
Tentang investasi.
Tentang masa depan yang cerah.
Semua terdengar indah.
Namun ketika sesi tanya jawab dibuka, Malik berdiri.
“Pak,” katanya dengan tenang, “kami tidak meminta kata-kata yang lebih indah. Kami hanya ingin mengetahui kapan masalah ini benar-benar diselesaikan.”
Pejabat itu terdiam beberapa saat.
Kemudian memberikan jawaban yang panjang.
Tetapi tidak menjawab pertanyaan inti.
Warga saling berpandangan.
Mereka sudah terlalu sering mendengar jawaban seperti itu.
Armin memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya.
Ada rasa kecewa.
Tetapi juga ada sesuatu yang lain.
Kesendirian.
Kesadaran bahwa perubahan tidak lahir dari janji sajah.
Perubahan membutuhkan keberanian untuk mendengar, mengakui kesalahan, dan bertindak nyata.
Hari ini telah berlalu.
Desa tetap menjalani kehidupannya.
Orang-orang tetap bekerja dirumah-rumah Anak-anak tetap sekolah.
Para babu memasak.
Para sahabat tetap berjuang.
Namun di balik semua aktivis itu tersimpan satu pertanyaan besar:
Kapankah kepastian akan datang?
Suatu pagi, Ramdani mengumpulkan beberapa pemuda.
Ia menunjukkan sebuah catatan tua.
Di dalamnya terdapat kutipan ayat Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Hamdan berkata, “Negara yang kuat berdiri di atas amanat dan keadilan. Jika amanat dijaga, rakyat akan percaya. Jika keadilan ditegakkan, rakyat akan bertahan. Tetapi jika keduanya diabaikan, yang tersisa hanyalah kekecewaan.”
Para pemuda mendengarkan dengan saksama.
Mereka menyadari bahwa menagih kepastian bukan berarti memusuhi negara.
Justru sebaliknya.
Menagih kepastian adalah bentuk kepedulian agar negara tetap berjalan pada tujuan yang benar.
Sore itu Armin kembali berdiri di tepi sawah yang telah berlubang.
Angin berembus perlahan.
Matahari mulai tenggelam.
Ia memandang ke arah cakrawala.
Di sana, langit yang sebelumnya kelabu perlahan berubah menjadi jingga keemasan.
Armin tersenyum tipis.
Harapan belum hilang.
Mungkin kepastian masih jauh.
Tetapi selama masih ada rakyat yang berani menyuarakan kebenaran dan selama masih ada pemimpin yang mau mendengar dengan hati yang jujur, jalan menuju keadilan tidak akan pernah benar-benar tertutup.
Sebab sebuah negeri yang tersakiti tidak selalu membutuhkan pidato yang megah.
Terkadang negeri itu hanya membutuhkan satu hal yang sederhana:
Janji yang perlu ditepati.
Seperti halnya kalam ilahi.







