Cahaya yang Tidak Padam

Di sebuah wilayah luas yang dikelilingi pegunungan dan lautan, berdirilah sebuah negeri bernama Nurania.

Negeri itu dikenal bukan karena kekuatan militernya, bukan pula karena kekayaan tambang atau kemegahan kotanya, melainkan karena satu hal yang jarang dimiliki banyak negara: keadilan.

Nurania berdiri di atas prinsip yang sederhana namun kuat—hukum Tuhan harus menjadi pedoman bagi kehidupan manusia. Para pemimpinnya tidak menganggap kekuasaan sebagai kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Di pusat ibu kota berdiri sebuah masjid besar yang selalu ramai oleh para penuntut ilmu. Para ulama, cendekiawan, pedagang, petani, dan pejabat sering duduk bersama dalam majelis ilmu.
Mereka membahas ayat-ayat Al-Qur’an, hukum-hukum keadilan, dan cara menjaga negeri agar tetap berada di jalan yang lurus.

Pemimpin negeri itu bernama Amir Salman Al-Hakim.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Rumahnya tidak lebih besar dari rumah rakyat biasa. Ia sering berjalan tanpa pengawalan berat, berbincang dengan pedagang di pasar, dan mendengarkan keluhan rakyat dengan sabar.

Suatu hari, dalam sebuah khutbah di masjid utama, Amir Salman berdiri di mimbar dan berkata,

“Wahai rakyat Nurania, kekuasaan ini bukan milikku. Ia milik Allah. Jika aku berlaku zalim, maka ingatkanlah aku. Jika aku melanggar hukum Tuhan, maka luruskanlah aku.”

Rakyat mencintainya bukan karena propaganda, tetapi karena mereka melihat sendiri bagaimana ia menegakkan keadilan.

Seorang pejabat pernah mencoba menyalahgunakan kekuasaan untuk mengambil tanah rakyat. Ketika perkara itu sampai kepada Amir Salman, ia tidak menutupinya.

Di hadapan pengadilan, pejabat itu dihukum sesuai hukum yang berlaku.
“Tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari keadilan,” kata Amir Salman.
Namun keadilan seringkali melahirkan kecemburuan.

Di luar perbatasan Nurania, beberapa negara besar memandang negeri itu dengan rasa tidak suka.

Mereka melihat rakyat Nurania hidup dengan kedamaian, sementara rakyat di negeri mereka sendiri dipenuhi ketimpangan.

Seorang penguasa dari negeri besar bernama Kardovia berkata dalam sebuah rapat rahasia,
“Jika ideologi mereka menyebar, rakyat kita akan mulai mempertanyakan kekuasaan kita.”

Seorang penasihat menambahkan,
“Mereka memerintah dengan hukum agama. Jika rakyat kita melihat keberhasilan mereka, maka sistem kita akan runtuh.”

Rapat itu berlangsung hingga larut malam.
Akhirnya mereka sepakat pada satu keputusan: Nurania harus dihancurkan sebelum pengaruhnya menyebar lebih luas.
Namun mereka tahu, Nurania bukan negeri yang mudah dikalahkan.

Maka mereka membuat rencana panjang.
Propaganda mulai disebarkan. Media-media asing menggambarkan Nurania sebagai negara berbahaya.

Tuduhan-tuduhan dilontarkan tanpa bukti.
Beberapa negara kecil yang takut pada kekuatan Kardovia akhirnya ikut bergabung dalam aliansi tersebut.
Koalisi besar pun terbentuk.
Suatu malam yang dingin, serangan pertama dimulai.

Pesawat tempur melintas di langit Nurania. Ledakan mengguncang kota-kota perbatasan.

Rakyat Nurania terbangun dalam kepanikan.

Namun para pemimpin militer segera bergerak.

Amir Salman berdiri di hadapan para pasukan dan berkata dengan tenang,
“Kita tidak mencari perang. Tetapi jika kezaliman datang ke pintu kita, maka mempertahankan kebenaran adalah kewajiban.”

Ia lalu membaca sebuah ayat dari Al-Qur’an:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Pasukan Nurania pun bersiap.
Perang itu tidak berlangsung singkat.
Hari berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun.

Koalisi negara besar memiliki teknologi canggih dan jumlah pasukan yang jauh lebih besar.

Namun pasukan Nurania memiliki sesuatu yang tidak dimiliki lawan mereka: keyakinan.

Di parit-parit pertahanan, para prajurit sering membaca Al-Qur’an sebelum pertempuran.
Mereka saling mengingatkan bahwa hidup dan mati ada di tangan Allah.

Suatu malam, Amir Salman berjalan di antara para prajurit.

Ia melihat seorang pemuda yang sedang membaca mushaf kecil di bawah cahaya lampu.

“Apa yang kau baca?” tanya Amir Salman.
Pemuda itu menjawab dengan hormat,

“Ayat ini, wahai Amir.”

Ia membaca:

“Berapa banyak kelompok kecil yang dapat mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)

Amir Salman tersenyum.
“Jagalah kesabaran itu,” katanya.

Perang terus berlanjut.

Meski diserang dari berbagai arah, Nurania tetap bertahan.

Namun musuh memiliki rencana yang lebih licik.

Mereka tidak mampu mengalahkan Amir Salman di medan perang yang jujur.
Maka mereka memilih jalan pengkhianatan.

Seorang mata-mata berhasil menyusup ke dalam barisan sekutu Nurania. Ia menyampaikan informasi palsu tentang pergerakan musuh.

Pada suatu malam, pasukan utama Nurania bergerak mengikuti informasi tersebut.

Namun ternyata itu adalah jebakan.
Serangan besar dilancarkan dari berbagai arah.

Pertempuran berlangsung sengit.
Amir Salman sendiri turun ke garis depan untuk menyemangati pasukan.

“Jangan mundur dari kebenaran!” serunya.
Namun dalam kekacauan pertempuran itu, sebuah peluru mengenai tubuhnya.
Para pengawal berusaha menyelamatkannya, tetapi luka itu terlalu parah.

Di tengah medan perang yang penuh debu dan suara ledakan, Amir Salman terbaring dengan napas yang mulai melemah.

Seorang panglima memegang tangannya.
“Wahai Amir… kami belum selesai berjuang.”

Amir Salman menatap langit yang gelap.
Dengan suara yang hampir berbisik ia berkata,
“Jangan berjuang untukku… berjuanglah untuk kebenaran.”

Lalu ia membaca ayat terakhir yang ia ingat:
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
(QS. Ali Imran: 169)
Setelah itu, matanya terpejam.
Berita wafatnya Amir Salman menyebar ke seluruh Nurania.

Rakyat menangis.

Masjid-masjid dipenuhi doa.

Namun sesuatu yang tak terduga terjadi.
Negara-negara lain yang selama ini diam mulai bersuara.

Mereka melihat bagaimana koalisi besar menghancurkan negeri yang hanya berusaha menegakkan keadilan.
Beberapa negara yang juga menjunjung kebenaran mulai mengirim bantuan.
Relawan datang dari berbagai penjuru dunia.

Para ulama menyerukan solidaritas.
“Jika satu negeri yang menegakkan keadilan dihancurkan,” kata seorang ulama tua dalam pidatonya, “maka dunia akan kehilangan cahaya.”

Semangat baru pun muncul di Nurania.
Para prajurit berkata satu sama lain,
“Pemimpin kita telah gugur, tetapi perjuangannya belum selesai.”
Seorang pemuda yang dulu membaca ayat di parit kini berdiri memimpin pasukan kecil.

Ia berkata kepada kawan-kawannya,
“Musuh mungkin mengira mereka telah memadamkan cahaya kita. Tetapi mereka lupa satu hal.”

Ia menunjuk ke langit.

“Cahaya yang datang dari Allah tidak bisa dipadamkan oleh manusia.”
Di kejauhan, matahari mulai terbit.
Dan di tanah yang pernah menjadi medan perang itu, harapan kembali tumbuh.
Karena kebenaran mungkin bisa ditunda.
Tetapi ia tidak akan pernah benar-benar dikalahkan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *