Kisah Ki Maling dengan Batuknya Buku Tabungan

Di sebuah kota kecil yang jalan rayanya lebih dipenuhi Anjing menyeberang daripada kendaraan dinas, hiduplah seorang polisi bernama Ramdan.

Tubuhnya tegap, kumisnya tipis, dan suaranya keras kalau menilang truk pasir, tetapi menjadi sangat lembut bila berbicara dengan ibunya lewat telepon.

Bacaan Lainnya

Ramdan dikenal warga sebagai polisi yang suka nongkrong di warung kopi sambil mendengarkan curhatan orang-orang. Ia jarang memberi nasihat panjang. Baginya, manusia sering kali tidak butuh ceramah, tetapi cukup didengarkan.

Suatu malam selepas hujan, Ramdan duduk di sebuah warung dekat pesantren tua. Lampu neon berkedip seperti sedang sakaratul maut. Dari kejauhan tampak seorang lelaki tinggi kurus berjalan perlahan sambil membawa sandal di tangan kirinya.

“Itu pasti Ki Jangkung,” kata pemilik warung.

Semua orang memang memanggilnya begitu. Tingginya hampir menyentuh kusen pintu mushala. Jika khutbah Jumat terlalu bersemangat, pecinya bisa menyenggol kipas angin.

Ki Jangkung duduk di depan Rahmad sambil menghela napas panjang.

“Pak Polisi,” katanya lirih, “saya ini sedang tidak baik-baik saja.”

Ramdan langsung serius. Dalam pikirannya mungkin ada kasus besar: tanah sengketa, pencurian sapi, atau minimal kehilangan ayam petelur.

“Ada apa, Kyai?”

Kyai Jangkung menatap gelas kopi seperti menatap masa depan bangsa.

“Saya dikejar bank.”

Rahmad hampir tersedak gorengan.

“Kyai punya utang?”

“Banyak.”

“Lho… bukannya Kyai juga pejabat di kantor kementerian daerah itu?”

“Iya.”

“Gajinya tetap?”

“Tetap.”

“Tunjangannya?”

“Tetap juga.”

Rahmad mengernyit.

“Lalu kenapa bisa utang?”

Ki Jangkung tersenyum pahit.

“Itulah misteri kehidupan modern, Pak Polisi. Gaji tetap, kebutuhan tidak tetap. Yang tetap hanya tagihan.”

Warung mendadak hening. Bahkan suara jangkrik seperti ikut merenung.

Ki Jangkung mulai bercerita.
Awalnya hidupnya sederhana. Ia naik motor tua, makan tempe, dan memakai sarung yang warnanya sudah sulit dibedakan antara hijau atau cokelat. Namun semua berubah sejak ia diangkat menjadi pejabat.

“Begitu saya jadi pejabat,” katanya, “orang-orang mulai memperlakukan saya seperti etalase berjalan.”

“Maksudnya?”

“Sedikit-sedikit harus kelihatan berhasil.”
Ramdan mengangguk pelan.

“Pertama, saya disuruh ganti motor. Kata mereka, masa pejabat naik motor yang bunyinya seperti doa minta hujan.”

“Lalu?”

“Saya kredit mobil.”

“Itu wajar.”

“Lalu rumah dicat ulang.”

“Masih wajar.”

“Lalu beli sofa.”

“Oke.”

“Lalu beli kulkas dua pintu padahal isi kulkas cuma air dingin dan sambal.”

Ramdan mulai tertawa kecil.

“Belum selesai,” kata Kyai. “Istri saya bilang, kalau tamu datang jangan pakai gelas yang ada tulisan deterjen.”

“Masuk akal juga.”
“Maka saya beli satu set gelas kristal.”
“Berapa?”

“Harganya cukup untuk membeli anjing tiga ekor.”

Ramdan menepuk jidat.

Kyai Jangkung melanjutkan dengan suara lirih seperti pembaca puisi.

“Yang paling berat bukan kebutuhan hidup, Pak Polisi. Yang paling berat itu kebutuhan menjaga gengsi.”

Ramdan terdiam.

Malam makin larut. Angin membawa aroma tanah basah dan kopi hitam.

Ki Jangkung lalu bercerita bagaimana setiap bulan dirinya seperti sedang ikut lomba bertahan hidup melawan tanggal tua. Gaji datang hanya sebentar, lalu hilang seperti mantan yang menemukan orang lebih mapan.

“Padahal saya ini pejabat,” katanya. “Tapi tiap akhir bulan saya menghitung uang receh lebih teliti daripada auditor negara.”
Rahmad tertawa keras.

“Kadang saya berpikir,” lanjut Kyai, “kenapa pejabat yang gajinya tetap justru sering hidupnya sempit?”

“Kenapa menurut ki?”

“Karena pendapatan naik, tetapi rasa cukup tidak ikut naik.”
Kalimat itu membuat warungnya kembali sepi.

Pemilik warung bahkan berhenti mengipas gorengan.

Kyai Jangkung mengeluarkan buku tabungan dari tasnya. Bentuknya lusuh.
“Ini buku tabungan saya.”

Ramdan melihat halaman-halamannya penuh potongan cicilan.

“Kenapa saya merasa buku ini lebih sering batuk daripada bernapas?” katanya Ki.
Ramdan tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.

Namun kemudian wajah Kyai kembali serius.

“Pak Polisi, manusia sekarang sering salah paham tentang kaya.”

“Maksudnya?”

“Dikira kaya itu soal banyak barang.

Padahal kadang yang banyak hanya cicilan.”

Ramdan mengangguk perlahan.

“Kita membeli barang yang tidak dibutuhkan demi terlihat hebat di depan orang yang sebenarnya juga sedang susah.”

“Benar juga.”

“Lucunya,” kata Dia, “orang miskin takut kelaparan. Orang yang merasa kaya takut kehilangan pencitraan.”

Malam itu Rahmad merasa sedang mendengar khutbah ekonomi paling jujur dalam hidupnya.

Kyai Jangkung lalu menatap langit.

“Saya ingat satu ayat,” katanya pelan.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
— QS. At-Takatsur: 1

“Kadang manusia sibuk terlihat sukses sampai lupa menikmati hidup,” lanjutnya.

“Rumah besar tetapi jarang bercengkerama. Mobil bagus tetapi hati panas. Jabatan tinggi tetapi tidur sulit.”

Rahmad termenung.

“Lalu sekarang bagaimana, Ki?”

“Saya mulai belajar hidup sederhana lagi.”

“Mobilnya dijual?”

“Belum. Masih kredit.”

Mereka tertawa bersama.

“Tapi saya mulai sadar,” kata Kyai, “kalau kebutuhan manusia itu sebenarnya sedikit. Yang banyak itu keinginan.”

Pemilik warung ikut menyahut, “Betul, Ki. Saya tiap hari makan tempe juga masih hidup.”

Dia tersenyum.

“Dan kadang orang paling tenang bukan yang paling banyak uangnya, tetapi yang paling sedikit pura-puranya.”

Hujan turun lagi perlahan.

Ramdan memandang Ki Jangkung yang duduk sederhana dengan sarung lusuh dan sandal murah. Di balik tubuhnya yang tinggi, ternyata ada kelelahan yang selama ini tidak terlihat.

Sebelum pulang, Kyai berkata pelan kepada Ramdan.
“Pak Polisi, kalau nanti anak muda bertanya apa pelajaran hidup malam ini, bilang pada mereka…”

“Apa?”

“Jangan memaksakan hidup mewah hanya demi terlihat berhasil. Sebab banyak orang tertawa di media sosial, tetapi menangis saat melihat tagihan bank.”

Ramdan mengangguk kuat.

Dia berdiri, lalu memakai sandalnya.

Tubuh jangkungnya berjalan pelan menembus gerimis malam.

Dan sejak malam itu, Rahmad sadar bahwa tidak semua orang yang bergaji tetap hidupnya tenang. Sebab di zaman modern, kadang yang paling mahal bukan harga kebutuhan, melainkan biaya untuk mempertahankan gengsi di hadapan manusia lain.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *