Antara Teka-Teki dan Penemuan Ayat Suci
Pada saat Kiai Fajri menyingsingkan sebuah baju berwarna hitam yang menentramkan, disanalah hidup dua sahabat bernama Ali dan Aji. Keduanya adalah manusia yang gemar menekuni sastra, dharma, dan rahasia kehidupan.
Di tengah desa mereka berdiri sebuah masjid tua yang dikelilingi taman puspa.
Setiap musim paceklik, taman itu selalu mekar dengan warna-warni yang indah.
Namun di balik keindahan itu tersimpan sebuah teka-teki yang diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya.
Teka-teki itu berbunyi:
“Apakah yang mekar tanpa batang, tumbuh tanpa akar, menerangi tanpa api, dan hidup tanpa nyawa?”
Sudah banyak orang mencoba menjawab, tetapi tidak ada yang benar-benar menemukan makna terdalamnya.
Suatu hari, setelah melaksanakan Sholat Subuh, Ali dan Aji duduk di bawah pohon beringin tua. Angin berembus lembut membawa harum bunga kemenyan yang bermekaran.
“Ali,” ujar Aji, “aku merasa teka-teki itu bukan sekadar permainan kata. Mungkin ada kaitannya dengan wahyu dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.”
Ali mengangguk.
“Benar. Para leluhur kita tidak mungkin meninggalkan pesan tanpa makna. Mungkin jawabannya tersembunyi dalam perjalanan sunyi.”
Maka keduanya bersepakat untuk melakukan pengembaraan mencari jawaban.
Perjalanan mereka dimulai dari sebuah pasraman tua yang dihuni seorang mahasantri bernama Raden Ramdani. Sang Guru yang dikenal arif dan gemar mengajarkan hikmah dari kitab Suci Al-qur’an.
Ketika mendengar teka-teki itu, Mahasantri Ramdani tersenyum.
“Wahai anak-cucuku,” katanya, “sebelum mencari jawaban, carilah dahulu makna dua kata: mekarindu dan nyekarwangi.”
“Mekarindu berarti berkembang,” jawab Ali.
“Sedangkan nyekarwangi adalah mengunjungi makam dan mendoakan mereka yang telah mendahului,” tambah Aji.
Mahasantri Ramdani mengangguk.
“Bagus. Mekarwanangi adalah kehidupan yang bertumbuh. Nyekarindu adalah pengingat bahwa setiap kehidupan akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah.
Keduanya adalah dua sisi perjalanan manusia.”
Kata-kata itu menancap dalam kalbu mereka.
Sebelum berpisah, sang mahasantri memberikan sebuah petunjuk.
“Ceritakanlah ayat yang berkaitan dengan hati yang menentramkan. Di sanalah teka-teki Keterbukaan hati dimulai.”
Ali dan Aji melanjutkan perjalanan sunyi. Mereka melewati hutan, sungai, dan perbukitan. Pada malam hari, mereka beristirahat di sebuah musholla yang dijaga seorang kakek penjaga masjid bernama Ibrahim.
Saat berbincang, Ibrahim membaca sebuah ayat:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?” (QS. Al-Hajj: 46)
Ibrahim lalu berkata:
“Banyak orang memiliki mata, tetapi tidak bisa melihat dengan kata hatinya. Memiliki telinga, tetapi tidak mendengar dengan kesungguhan hatinya. Yang sesungguhnya harus mekarindu adalah hati.”
Ali terdiam.
“Hati yang mekarindu?”
“Ya,” jawab Ibrahim. “Ketika hati disinari petunjuk Allah, ia menjadi taman yang penuh bunga hikmah.”
Malam itu mereka merenung lama.
Keesokan harinya perjalanan membawa mereka ke sebuah pemakaman tua di atas bukit. Di sana tampak seorang alim-ulama sedang berdoa untuk para penghuni kubur.
Aji bertanya, “Mengapa Tuan sering datang ke sini?”
Alim-ulama menjawab lembut:
“Agar aku tidak lupa bahwa dunia hanyalah persinggahan.”
Beliau kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ:
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Maka sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)
Ali dan Aji saling berpandangan.
Mekarindu mengingatkan kehidupan.
Nyekarwangi mengingatkan kematian.
Keduanya ternyata saling melengkapi.
Mereka pun melanjutkan pencarian.
Di sebuah perpustakaan kuno, mereka menemukan mushaf tua yang penuh catatan ulama terdahulu. Pada halaman tertentu tertulis ayat:
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Ali membaca berulang kali.
Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya.
“Aji! Bukankah teka-teki itu berbunyi mekarwangi tanpa batang, tumbuh tanpa akar, menerangi tanpa api, dan hidup tanpa nyawa?”
“Benar.”
“Mungkinkah yang dimaksud adalah hidayah?”
Aji berfikir.
“Hidayah memang menerangi tanpa api. Ia tumbuh tanpa akar fisik. Dan ketika masuk ke dalam relung hati, ia berkembang seperti bunga.”
Namun mereka masih merasa jawaban itu belum sempurna.
Malam berikutnya mereka bermalam di sebuah masjid tua. Setelah shalat Tahajud, mereka membaca Al-Qur’an bersama.
Ketika membuka mushaf, pandangan Ali tertuju pada firman Allah:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9)
Seketika hatinya mulai gemetar.
“Aku mengerti!”
“Apa yang kau pahami?” tanya Aji.
Arya menjawab dengan mata berbinar.
“Yang mekarindu tanpa batang adalah iman yang tumbuh dalam hati.”
“Lalu?”
“Yang tumbuh tanpa akar adalah ilmu yang lahir dari petunjuk Allah.”
“Dan yang menerangi tanpa api?”
“Itulah ayat-ayat Al-Qur’an.”
Aji mulai memahami.
“Sedangkan hidup tanpa nyawa?”
Ali tersenyum.
“Itu adalah kalam Allah yang selalu hidup dalam setiap zaman meski bukan makhluk bernyawa.”
Mereka akhirnya menemukan makna terdalam teka-teki tersebut.
Namun perjalanan belum selesai.
Ketika kembali ke desa, mereka mengumpulkan para pemuda dan menceritakan hasil pencarian itu.
Ali berkata:
“Saudara-saudaraku, banyak orang mengejar bunga yang mekar di taman, tetapi melupakan bunga yang harus mekar dalam hati.”
Aji menambahkan:
“Dan banyak orang takut berbicara tentang kematian. Padahal nyekar mengajarkan bahwa hidup ini sementara.”
Kemudian ia mengutip hadis Nabi ﷺ:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Para pemuda askabul kahfi mendengarkan dengan khidmat.
Salah seorang bertanya:
“Apakah makna terbesar dari mekar dan nyekar?”
Ali menjawab:
“Mekarindu adalah saat iman berkembang.”
Aji melanjutkan:
“Nyekarindu adalah saat manusia mengingat akhir perjalanan.”
“Lalu apa hubungan keduanya?”
Ali tersenyum.
“Orang yang mengingat kematian akan menjaga kehidupannya. Dan orang yang menjaga kehidupannya akan membuat hatinya mekarindu dengan amal sholeh.”
Sejak hari itu, teka-teki warisan leluhur tidak lagi dianggap sekadar permainan. Ia menjadi pelajaran hidup.
Taman bunga di dekat masjid tetap bermekaran setiap tahun. Namun kini hati rakyat memahami bahwa bunga yang paling indah bukanlah yang tumbuh di tanah, melainkan yang tumbuh di dalam hati manusia.
Ketika seseorang membaca ayat suci dengan penuh penghayatan, hatinya mekarindu kepada Allah semata.
Ketika seseorang berziarah dan mendoakan orang tuanya, jiwanya menjadi rendah hati.
Ketika seseorang mengingat Allah di tengah kesibukan dunia, kehidupannya menjadi lebih bermakna.
Mekarindu dan nyekarwangi akhirnya menjadi dua kata yang selalu disebut bersama di hati sanubari negeri.
Mekarindu sebagai lambang harapan.
Nyekarwangi sebagai lambang kesadaran dan kebermanfaatan.
Mekarindu mengajarkan untuk bertumbuh.
Nyekarwangi mengajarkan untuk kembali mengelola untuk bersuci.
Dan di antara keduanya berdirilah ayat-ayat suci yang menjadi cahaya penuntun kepada sang pencipta.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Maka rakyat di desanya para santri menjadikan Al-Qur’an sebagai pelita kehidupan. Mereka belajar, mengajarkan, dan mengamalkannya. Hati-hati mereka menjadi taman yang penuh hikmah dan kebajikan.
Demikianlah rahasia teka-teki itu terungkap:
Yang sesungguhnya mekarindu adalah iman. Yang sesungguhnya nyekarwangi adalah kesadaran akan kematian.
Dan yang menghubungkan keduanya adalah cahaya ayat-ayat Allah yang hidup pada Nabi Muhammad saw.
Sejak saat itu, setiap kali bunga bermekaran di taman kota, orang-orang teringat bahwa hidup ini harus dihiasi amal sholih. Dan setiap kali mereka nyekar ke makam para pendahulu, mereka teringat bahwa seluruh kemegahan dunia akan kembali kepada tanah.
Namun ayat Allah akan tetap hidup, menerangi hati-hati yang mencari kebenaran, hingga akhir hayat nanti.







