Suara Nyaring Ibu Kota yang Didengar Desa

Matahari baru saja muncul dari balik bukit ketika suara radio tua milik Pak Sastro kembali terdengar dari gardu bambu di pinggir jalan desa. Radio itu sudah berusia puluhan tahun. Cat hitamnya telah memudar, antenanya pernah patah dan disambung dengan kawat, namun suaranya masih mampu menjangkau telinga warga yang setiap pagi melewati jalan menuju sawah.

Desa Ciburial adalah desa yang tenang. Sawah membentang luas, sungai kecil mengalir jernih, dan suara ayam berkokok lebih sering terdengar dibanding suara kendaraan. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, ketenangan itu perlahan berubah.

Bukan karena desa mereka didatangi pabrik besar.

Bukan pula karena terjadi bencana.

Melainkan karena suara-suara dari ibu kota yang setiap hari datang melalui layar telepon genggam, televisi, dan media sosial.

Suara itu begitu nyaring.

Terlalu nyaring.

Seakan-akan lebih dekat daripada suara tetangga sendiri.

Di antara warga desa itu, ada seorang pemuda bernama Rahman. Ia baru saja menyelesaikan kuliah di kota kabupaten dan kembali ke desanya dengan harapan bisa membantu pembangunan kampung halaman.

Rahman sering duduk bersama Pak Sastro di gardu.

“Pak, kenapa sekarang orang desa lebih banyak membicarakan politik ibu kota dibanding harga gabah?” tanyanya suatu pagi.

Pak Sastro tersenyum.

“Karena suara ibu kota sekarang lebih keras daripada suara sawah.”

Rahman tertawa kecil.

Namun semakin lama ia memikirkan kalimat itu, semakin terasa bahwa kalimat tersebut bukan sekadar gurauan.

Di warung kopi milik Bu Minah, para warga berkumpul setiap sore. Dulu pembahasan mereka sederhana.

Tentang musim tanam.

Tentang irigasi.

Tentang hasil panen.

Tentang anak-anak yang merantau.

Kini pembahasannya berbeda.

Ada yang memperdebatkan pidato pejabat.

Ada yang marah karena berita yang belum tentu benar.

Ada yang saling menyalahkan hanya karena berbeda pilihan politik.

Suatu sore suasana warung menjadi panas.

“Negara ini hancur karena kelompok itu!” teriak seorang warga.

“Bukan! Justru karena kelompokmu!” balas yang lain.

Rahman yang duduk di pojok memperhatikan mereka.

Aneh, pikirnya.

Orang-orang ini hidup di desa yang sama.

Menggunakan sumber air yang sama.

Shalat di masjid yang sama.

Namun mereka bisa saling bermusuhan karena persoalan yang terjadi ratusan kilometer jauhnya.

Padahal jalan desa masih berlubang.

Saluran irigasi masih rusak.

Harga pupuk masih mahal.

Tetapi masalah-masalah itu justru jarang dibahas.

Suara ibu kota telah mengalahkan suara desa.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah daerah mengadakan pertemuan dengan warga.

Seorang pejabat datang membawa berbagai program pembangunan.

Balai desa penuh sesak.

Rahman berharap warga akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan kebutuhan mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Warga sibuk menanyakan isu-isu nasional yang sedang ramai di media sosial.

Tentang pernyataan seorang tokoh.

Tentang konflik politik.

Tentang kabar-kabar yang bahkan belum jelas kebenarannya.

Pejabat itu tampak kebingungan.

“Sebenarnya, apa kebutuhan utama desa ini?” tanyanya.

Ruangan mendadak hening.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena sebagian besar warga lebih hafal berita politik daripada kondisi saluran air di sawah mereka sendiri.

Rahman merasakan sesuatu yang mengganggunya.

Ada yang tidak beres.

Sangat tidak beres.

Malam itu Rahman pergi menemui Kyai Hamid, ulama sepuh yang dihormati warga.

Kyai Hamid tinggal di rumah sederhana dekat masjid.

Usianya hampir tujuh puluh tahun.

Namun pikirannya masih jernih.

“Pak Kyai,” kata Rahman, “mengapa kita begitu sibuk mendengar suara yang jauh sampai lupa mendengar suara yang dekat?”

Kyai Hamid tersenyum.

“Lalu apa yang kau maksud dengan suara yang dekat?”

“Masalah desa, Pak Kyai.”

Kyai Hamid mengangguk pelan.

Kemudian ia mengambil sebuah mushaf Al-Qur’an dan membacakan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)

“Rahman,” katanya, “ayat ini mengajarkan tanggung jawab. Banyak orang ingin mengubah negara, tetapi tidak mau memperbaiki lingkungannya sendiri. Mereka ingin mengatur ibu kota, tetapi halaman rumahnya penuh sampah.”

Rahman terdiam.

“Suara dari pusat memang penting,” lanjut Kyai Hamid. “Namun jika suara itu membuat kita melupakan amanah yang berada tepat di depan mata, maka kita sedang kehilangan keseimbangan.”

Perkataan itu terus terngiang di kepala Rahman.

Beberapa hari kemudian ia mengajak sejumlah pemuda desa berkumpul.

Mereka mendiskusikan berbagai persoalan nyata yang dihadapi warga.

Mulai dari irigasi yang rusak.

Sampai perpustakaan desa yang terbengkalai.

Awalnya hanya lima orang yang datang.

Kemudian sepuluh.

Lalu dua puluh.

Mereka mulai membuat kegiatan gotong royong.

Membersihkan saluran air.

Mengajar anak-anak.

Mengadakan diskusi pertanian.

Sedikit demi sedikit suasana desa berubah.

Orang-orang mulai menyadari bahwa ada banyak persoalan yang bisa mereka selesaikan tanpa harus menunggu perdebatan panjang di televisi.

Suatu hari hujan deras turun selama berjam-jam.

Sungai kecil meluap.

Sebagian sawah terendam.

Warga segera turun membantu.

Menumpuk karung pasir.

Memperkuat tanggul.

Menyelamatkan hasil panen.

Di tengah kesibukan itu, Rahman memperhatikan sesuatu.

Tidak ada yang bertanya siapa pilihan politik tetangganya.

Tidak ada yang memperdebatkan berita media sosial.

Tidak ada yang mempersoalkan pernyataan tokoh nasional.

Semua fokus pada masalah yang ada di depan mata.

Dan semuanya bekerja sama.

Saat itulah Rahman memahami sesuatu.

Ketika masalah nyata datang, manusia kembali kepada kenyataan.

Perpecahan yang sebelumnya tampak besar ternyata hanya bayangan yang dibesarkan oleh suara-suara jauh.

Beberapa minggu setelah banjir reda, Pak Sastro kembali duduk di gardunya sambil mendengarkan radio tua.

Rahman menghampirinya.

“Masih mendengarkan berita dari ibu kota, Pak?” tanyanya.

Pak Sastro tertawa.

“Masih.”

“Lalu bagaimana menurut Bapak?”

Pak Sastro mematikan radio itu perlahan.

Kemudian ia menunjuk ke arah sawah.

“Berita dari ibu kota penting.”

Lalu ia menunjuk ke arah warga yang sedang memperbaiki jalan desa.

“Namun suara cangkul mereka juga penting.”

Ia menunjuk ke arah masjid.

“Suara azan juga penting.”

Ia menunjuk ke arah sekolah.

“Suara anak-anak belajar juga penting.”

Pak Sastro tersenyum.

“Masalahnya bukan karena suara ibu kota terlalu nyaring.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Kita lupa menguatkan suara desa.”

Rahman terdiam.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

Selama ini banyak orang mengeluh karena kebisingan informasi.

Padahal yang perlu dilakukan bukan mematikan seluruh suara dari luar.

Melainkan memperkuat suara yang berasal dari sekitar mereka sendiri.

Suara petani.

Suara guru.

Suara ulama.

Suara pekerja.

Suara rakyat yang setiap hari menghadapi kenyataan hidup.

Tahun demi tahun berlalu.

Desa Ciburial perlahan berkembang.

Irigasi diperbaiki.

Perpustakaan hidup kembali.

Kelompok tani menjadi lebih aktif.

Pemuda-pemuda desa mulai menciptakan usaha kecil.

Mereka tetap mengikuti berita nasional.

Tetap peduli terhadap keadaan negara.

Namun tidak lagi tenggelam dalam hiruk-pikuk yang membuat mereka lupa terhadap lingkungan sendiri.

Karena mereka telah belajar satu pelajaran penting.

Bahwa negeri tidak hanya dibangun oleh pidato yang menggema dari gedung-gedung tinggi ibu kota.

Negeri juga dibangun oleh tangan-tangan sederhana di desa-desa yang bekerja dalam diam.

Suara ibu kota memang nyaring.

Kadang sangat nyaring.

Namun masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara.

Masa depan bangsa juga ditentukan oleh siapa yang mau bekerja ketika sorotan kamera tidak ada.

Dan pada akhirnya, suara yang paling berharga bukanlah suara yang paling keras terdengar.

Melainkan suara yang mampu menggerakkan manusia untuk memperbaiki keadaan di sekelilingnya.

Karena ketika desa-desa kuat, negeri akan kokoh.

Ketika masyarakat sibuk membangun, bukan sekadar berdebat, maka kemajuan akan menemukan jalannya.

Dan ketika suara hati nurani masih lebih didengar daripada kebisingan kepentingan, harapan bagi masa depan bangsa akan tetap menyala, dari desa yang sederhana hingga ke jantung ibu kota.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *