Kisah Para Para Pengintip

Di sebuah kampung yang tenang, hiduplah seorang lelaki bernama Haris. Ia dikenal ramah di depan banyak orang, namun memiliki kebiasaan buruk yang tidak diketahui banyak orang. Haris gemar mengintip kehidupan orang lain dan menguntit setiap kabar yang menurutnya menarik untuk disebarkan.

Awalnya ia menganggap perbuatannya sepele. Baginya, mengamati kehidupan orang lain adalah hiburan. Ia sering berdiri di balik jendela rumahnya, memperhatikan tetangga yang lalu-lalang. Ia juga gemar mencari informasi pribadi orang lain, lalu membicarakannya di berbagai pertemuan.
“Kalau tidak ada yang tahu, berarti tidak masalah,” pikirnya.

Bacaan Lainnya

Namun tanpa disadari, kebiasaan itu perlahan mengotori hatinya. Ia menjadi mudah berprasangka, gemar mencari-cari kesalahan, dan merasa lebih baik daripada orang lain.

Suatu hari, seorang guru tua bernama Kyai David datang mengisi pengajian di masjid kampung. Dalam ceramahnya, beliau membacakan firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Mendengar ayat itu, beberapa jamaah menundukkan kepala. Namun Haris masih merasa ayat tersebut tidak berkaitan dengannya.

Hari telah berlalu. Kebiasaan Haris semakin menjadi. Ia bahkan mulai mengikuti jejak seseorang hanya untuk mengetahui rahasia yang bisa ia ceritakan kepada orang lain.

Suatu malam, ia mendengar kabar bahwa seorang pemuda masjid bernama Salman sering pulang larut malam. Haris pun diam-diam menguntitnya. Dengan penuh curiga, ia membayangkan berbagai keburukan.

Setelah beberapa malam mengikuti Salman, akhirnya ia mengetahui kenyataan yang mengejutkan. Ternyata Salman pulang malam karena mengantarkan makanan kepada beberapa janda tua dan fakir miskin di kampung sebelah.

Haris terdiam.

Selama ini ia telah menuduh dalam hati tanpa bukti. Ia telah membangun cerita yang tidak benar hanya karena prasangka.
Ketika pulang, langkahnya terasa berat.

Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dirinya lebih sibuk mengawasi manusia daripada memperbaiki dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Kyai David kembali menyampaikan ayat yang lain:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa.”
(QS. An-Nisa: 107)

Beliau menjelaskan bahwa pengkhianatan tidak selalu berupa pencurian atau penggelapan harta. Membocorkan rahasia, mengintip kehormatan orang lain, mencari aib untuk dijadikan bahan pembicaraan, juga termasuk bentuk pengkhianatan terhadap amanah persaudaraan.

Haris merasa dadanya sesak.
Ia teringat berbagai rahasia yang pernah ia sebarkan. Ia teringat wajah orang-orang yang mungkin terluka karena lisannya.

Kyai David melanjutkan dengan membaca ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 27)

Malam itu Haris tidak dapat tidur.

Ia merenungkan hidupnya. Selama ini ia mengira dirinya sedang mencari kebenaran. Padahal yang ia lakukan hanyalah memuaskan rasa ingin tahu yang tidak bermanfaat. Ia seperti seseorang yang sibuk membuka tirai rumah orang lain, sementara rumahnya sendiri penuh debu yang tak pernah dibersihkan.

Keesokan harinya ia mendatangi Salman.

“Aku ingin meminta maaf,” katanya dengan suara bergetar.

“Ada apa, Haris?” tanya Salman.

“Aku pernah mengikutimu diam-diam. Aku berprasangka buruk kepadamu.”

Salman terkejut, namun ia tersenyum.

“Allah akan mengampuni kita semua.”

Jawaban itu membuat Haris semakin malu.
Sejak saat itu, ia mulai berubah. Ketika mendengar kabar tentang seseorang, ia memilih diam. Ketika muncul keinginan untuk mencari tahu urusan pribadi orang lain, ia mengingat firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12.

Dalam sebuah pengajian terakhir sebelum Kyai David kembali ke kotanya, beliau menyampaikan pesan yang sangat membekas:

“Pengintip dan penguntit sering merasa dirinya pencari kebenaran. Padahal banyak di antara mereka hanya sedang mengumpulkan bahan prasangka. Orang yang sibuk melihat kesalahan orang lain sering lupa melihat dosa yang ada di dalam dirinya sendiri.”

Haris meneteskan air mata.
Ia sadar bahwa pengkhianatan terbesar bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan ketika seseorang mengetahui larangan Allah namun tetap melakukannya tanpa rasa bersalah.

Sejak hari itu, ia berusaha menjaga pandangan, menjaga lisan, dan menjaga amanah. Karena ia memahami satu hal yang sangat penting:

Allah tidak hanya melihat apa yang dilakukan manusia di hadapan orang banyak, tetapi juga apa yang mereka lakukan ketika bersembunyi di balik tirai.
“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”

(QS. Ghafir: 19)
Dan bagi orang yang mau menyadari kesalahannya sebelum terlambat, pintu taubat Allah tetap terbuka seluas langit dan bumi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *