Pagi selalu datang lebih cepat bagi orang yang punya utang.
Bukan matahari yang membangunkan mereka, melainkan getaran ponsel yang tak mengenal belas kasihan.

Raka terbangun di lantai rumah kontrakan yang dindingnya lembap dan atapnya bocor. Di layar ponselnya, deretan pesan masuk seperti barisan tentara: rapi, tegas, dan mengancam. Pinjaman online—yang dulu ia anggap sebagai jalan keluar—kini menjadi jalan sempit yang memaksanya berjalan tanpa boleh berhenti.
Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s.
Ia meminjam uang bukan untuk berfoya-foya. Uang itu untuk biaya berobat ayahnya, untuk membeli beras, untuk bertahan hidup di negeri yang tak memberi waktu pada orang miskin untuk bernapas.
Setiap hari, Raka berlomba dengan jam.
Pagi menjadi kuli bangunan, siang mengantar pesanan dengan sepeda motor tua, malam menyortir barang di gudang. Keringatnya jatuh di banyak tempat, tapi hasilnya selalu tiba di satu tujuan: membayar utang yang tak kunjung habis.
Di jalan, ia melihat baliho-baliho pemimpin tersenyum lebar. Janji keadilan terpampang seperti hiasan kota. Raka tersenyum kecil. Ia tahu, senyum di baliho tak pernah ikut membayar cicilan.
Ibunya, Sari, menjahit sampai matanya merah. Jarum sering menusuk jarinya, tapi rasa perih itu kalah oleh rasa takut. Penagih sudah menghubungi tetangga, saudara, bahkan ketua RT. Nama baik keluarga mereka terkoyak bukan oleh kejahatan, melainkan oleh kemiskinan yang dipinjamkan dengan bunga.
“Kita seperti ikut lomba yang aturannya tidak kita buat,” kata Sari suatu malam.
“Lomba apa, Bu?” tanya Raka.
“Lomba bertahan hidup,” jawabnya lirih.
Di warung kopi, Raka sering mendengar orang-orang bicara tentang kenaikan harga, tentang pajak, tentang kebijakan yang tak pernah turun sampai ke lantai rumah mereka. Semua bekerja lebih keras, tapi hidup tak bergerak maju—hanya berputar di tempat, seperti roda yang terjebak lumpur.
Sementara itu, di gedung-gedung tinggi, rapat demi rapat berlangsung. Kata “rakyat” diucapkan berkali-kali, tapi jaraknya tetap jauh. Keputusan turun dari atas seperti hujan yang tak pernah sampai ke tanah—menguap di tengah jalan.
Suatu hari, motor Raka mogok. Ia duduk di pinggir jalan, memandang arus kendaraan yang terus bergerak. Di ponselnya, pesan ancaman kembali datang. Ia menunduk, bukan karena kalah, tapi karena lelah.
Namun di tengah kelelahan itu, ia sadar satu hal:
mereka bukan malas, bukan bodoh, bukan ingin berutang.
Mereka hanya tak diberi pilihan yang adil.
Raka berdiri, mendorong motornya perlahan. Langkahnya berat, tapi masih melangkah. Di negeri ini, berhenti berarti tenggelam.
Dan selama ketidakadilan masih dibagi rata—
rakyat akan terus berlomba,
bukan menuju sejahtera,
melainkan menuju hari esok yang belum tentu lebih baik.







