Dibandingkan Pembangunan, Lebih Baik Penghijauan

Malam itu langit tampak bersih setelah hujan kecil membasahi kota. Di sebuah pendopo tua yang berada di pinggir taman kampus, berkumpullah sekelompok anak muda dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa teknik, santri, penulis muda, hingga beberapa pemuda yang terkesan gemar mempertanyakan banyak hal tentang keyakinan, agama, dan arah peradaban manusia yang katanya modern.

Majelis itu tidak seperti pengajian pada umumnya. Tidak ada pengeras suara besar, tidak ada podium tinggi, dan tidak ada jarak antara pembicara dan pendengar. Semua duduk melingkar di atas tikar sederhana sambil ditemani teh hangat dan suara jangkrik yang sesekali mengalunkan kesunyian malam.

Bacaan Lainnya

Tema yang dibahas malam itu cukup berat dan berbobot:

“Tanda-Tanda Kiamat dan Fenomena Sosial Modern.”

Di tengah lingkaran duduk seorang lelaki tua bernama Rahman. Rambutnya memutih, tetapi sorot matanya masih tajam. Ia dikenal sebagai dosen filsafat yang juga mendalami ilmu tafsir dan sejarah peradaban Islam. Anak-anak muda menyukai cara bicaranya yang tenang dan tidak mudah menghakimi.

Seorang mahasiswa bernama Ahmad mengangkat tangan, dengan maksud mengajukan pertanyaan.

“Pak Rahman,” katanya, “mengapa tanda-tanda kiamat selalu dibahas dengan nuansa menakutkan? Bukankah banyak perubahan dunia yang justru terlihat positif? Teknologi berkembang, kota maju, gurun mulai hijau, bahkan wilayah Arab sekarang mulai banyak penghijauan.”

Rahman tersenyum tipis.

“Itulah menariknya zaman,” jawabnya. “Kadang manusia sulit membedakan antara kemajuan dan peringatan.”

Ucapan itu membuat suasana mulai serius.

Di sudut lingkaran duduk seorang wanita muda bernama Adle. Ia mengenakan pakaian khasnya berwarna hijau tua, dipadukan jilbab hitam yang rapi. Cara duduknya tenang, tetapi matanya terlihat sangat memperhatikan setiap arah pembicaraan.

Adle bukan tipe perempuan yang banyak bicara. Namun ketika berbicara, semua orang biasanya diam mendengarkan.

Ia dikenal cerdas, elegan, dan tajam dalam membaca keadaan sosial. Tulisan-tulisannya tentang pendidikan dan kritik pembangunan kota beberapa kali viral di media sosial kampus.

Rahman melanjutkan pembahasan.

“Ada hadis yang sering dibicarakan,” katanya. “Bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah tanah Arab kembali menghijau dan dialiri sungai.”

Beberapa pemuda langsung membuka telepon genggam mereka.

“Benar, Pak,” sahut seorang mahasiswa teknik lingkungan. “Sekarang Arab Saudi sedang besar-besaran melakukan penghijauan. Gurun mulai ditanami pohon. Bahkan ada proyek kota modern di tengah padang pasir.”

“Bukankah itu bagus?” timpal yang lain. “Artinya manusia semakin maju.”

Perdebatan mulai muncul.

Sebagian menganggap penghijauan adalah tanda kemajuan peradaban.

Sebagian lain menganggapnya sebagai bagian dari fenomena besar akhir zaman.

Namun di tengah percakapan itu, Adle tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata dengan nada tenang:

“ Sejujurnya… dibandingkan pembangunan besar-besaran,  dunia memang lebih membutuhkan penghijauan.”

Suasana langsung diam.

Semua mata tertuju kepadanya.

Adle melanjutkan dengan tenang.

“Kita hidup di zaman aneh. Hutan ditebang demi gedung. Sawah dihilangkan demi kawasan industri. Sungai ditutup demi pusat perbelanjaan. Lalu manusia bingung kenapa banjir datang, udara panas, dan pangan semakin mahal.”

Ia berhenti sejenak.

“Terkadang manusia menyebut itu pembangunan. Padahal bisa jadi itu hanya pemindahan bencana ke masa depan.”

Ucapan itu membuat beberapa orang saling pandang.

Seorang pemuda bernama Fitrah tersenyum kecil.

“Tapi pembangunan kan penting, Adle. Kota maju itu simbol kemajuan negara.”

Adle mengangguk.

“Aku tidak menolak pembangunan,” jawabnya elegan. “Aku hanya mempertanyakan prioritas manusia modern.”

Ia memandang ke arah taman yang masih basah oleh hujan.

“Kita membangun hotel mewah, tetapi rakyat kehilangan air bersih. Kita bangga dengan jalan tol panjang, tetapi petani kehilangan lahan. Kita sibuk membuat kota pintar, tetapi lupa membuat manusia bijaksana.”

Rahman tampak sedih dan prihatin mendengar penjelasan itu.

Adle melanjutkan:

“Lucunya lagi, ketika suhu bumi semakin panas, manusia malah berlomba membuat lebih banyak beton. Seolah-olah pohon tidak lagi dianggap bagian penting dari peradaban.”

Seorang mahasiswa ekonomi menyela.

“Tapi bukankah negara butuh investasi?”

Adle tersenyum tipis.

“Dan bumi butuh bernapas.”

Kalimat itu membuat majelis kembali hening.

Malam semakin sunyi.

Angin dingin mulai berhembus pelan di antara pepohonan taman kampus.

Rahman lalu berkata:

“Dalam sejarah, banyak peradaban besar runtuh bukan karena kurang gedung, tetapi karena kerakusan manusia.”

Ia menjelaskan bagaimana beberapa kerajaan besar dahulu mengalami kehancuran akibat krisis lingkungan, perebutan sumber daya, dan hilangnya moral masyarakat.

“Kadang,” katanya, “kiamat kecil sebuah bangsa dimulai saat manusia berhenti menghormati alam.”

Adle mengangguk pelan.

“Benar,” katanya. “Hari ini kita menyaksikan banyak fenomena sosial aneh. Orang berlomba menampilkan kemewahan, tetapi depresi meningkat. Kota makin terang, tetapi hati manusia makin gelap.”

Beberapa anak muda mulai serius mendengarkan.

“Lihat media sosial,” lanjut Adle. “Semua ingin terlihat sukses. Semua ingin viral. Tetapi sedikit yang peduli apakah sungai masih bersih atau apakah petani masih bisa menanam.”

Fitrah tertawa kecil.

“Kamu bicara seperti aktivis revolusioner.”

Adle tersenyum santai.

“Tidak,” jawabnya. “Aku hanya tidak ingin generasi setelah kita mewarisi bumi yang rusak.”

Malam itu pembahasan berubah menjadi sangat santai.

Mereka mulai membicarakan hubungan antara agama, lingkungan, dan tanda-tanda zaman.

Rahman kemudian mengutip makna ayat Al-Qur’an tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia.

“Kerusakan,” katanya, “sering kali bukan karena bumi kurang kaya. Tetapi karena manusia terlalu rakus.”

Seorang pemuda lain bertanya:

“Jadi apakah menghijaunya tanah Arab itu benar-benar tanda kiamat?”

Rahman menjawab hati-hati.

“Tidak semua tanda harus dipahami dengan ketakutan. Kadang tanda kiamat adalah pengingat agar manusia berpikir.”

Adle lalu menambahkan:

“Mungkin masalahnya bukan pada tanah Arab yang menghijau. Tetapi pada hati manusia yang semakin kering.”

Kalimat itu membuat suasana menjadi sangat sunyi.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Beberapa pemuda terlihat termenung.

Di kejauhan terdengar suara kendaraan malam melintas perlahan.

Adle kembali berbicara dengan nada lembut tetapi tegas.

“Coba lihat dunia hari ini. Banyak negara maju secara ekonomi, tetapi masyarakatnya kehilangan ketenangan. Banyak orang punya rumah besar, tetapi jarang pulang karena sibuk bekerja. Banyak anak muda memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi tidak punya satu orang pun untuk diajak bicara saat sedih.”

Ia menarik napas pelan.

“Dan di tengah semua itu, bumi terus memberi tanda. Cuaca berubah. Panas meningkat. Air bersih mulai sulit. Hutan menghilang.”

Fitrah mulai terlihat serius.

“Jadi menurutmu solusi utama adalah penghijauan?”

Adle menjawab:

“Jelas Iya!!!”

“Penghijauan bukan sekadar menanam pohon. Itu simbol cara berpikir.”

“Maksudnya?”

“Manusia harus kembali belajar merawat, bukan hanya mengeksploitasi.”

Rahman mengangguk pelan.

“Itulah inti banyak ajaran agama,” katanya. “Bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi. Manusia hanyalah penjaga.”

Majelis semakin hidup.

Mereka berdiskusi hingga hampir tengah malam.

Ada yang membahas krisis pangan, ada yang membahas kapitalisme modern, ada pula yang membahas bagaimana agama sering hanya dijadikan simbol tanpa nilai kepedulian sosial.

Namun satu hal yang paling diingat malam itu adalah keberanian Adle.

Ia tidak berbicara dengan emosi.

Ia tidak berteriak.

Tetapi setiap kalimatnya seperti menampar kesadaran banyak orang.

Sebelum majelis berakhir, Rahman meminta semua peserta menyampaikan satu kesimpulan singkat.

Ketika giliran Adle tiba, suasana kembali hening.

Ia memandang langit malam yang mulai dipenuhi kabut tipis.

Lalu ia berkata:

“Manusia modern terlalu sibuk membangun dunia luar, sampai lupa memperbaiki dunia dalam dirinya.”

Ia melanjutkan:

“Kita membangun gedung tinggi, tetapi membiarkan moral runtuh. Kita membangun jalan luas, tetapi membiarkan kesenjangan sosial tumbuh. Kita membangun kota mewah, tetapi menghancurkan hutan dan sawah.”

Adle tersenyum kecil.

“Mungkin karena itu bumi mulai memberi peringatan.”

Beberapa orang menunduk.

Dan kalimat terakhirnya malam itu menjadi penutup yang terus diingat banyak peserta majelis:

“Kalau pembangunan membuat manusia lupa bersyukur dan lupa menjaga bumi, maka dibandingkan pembangunan… dunia memang lebih membutuhkan penghijauan.”

Angin malam kembali berhembus pelan.

Daun-daun bergerak perlahan seolah ikut menyetujui percakapan mereka.

Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi pembangunan, suara Adle malam itu terasa seperti pengingat sederhana:

Bahwa kemajuan tidak selalu berarti gedung yang menjulang.

Kemajuan dimulai dari satu pohon yang ditanam dengan kesadaran dan tidak harus diketahui orang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *