Kisah kyAI Malang yang Bimbang

Hujan turun perlahan di halaman pesantren tua yang berdiri di kaki bukit. Lampu-lampu gantung di serambi memantulkan cahaya kekuningan yang tampak tenang, sementara suara jangkrik dan desir angin menyelinap di sela-sela kitab kuning yang masih terbuka di hadapan para santri.

Di pesantren itu, ada sebuah tradisi yang tidak pernah berubah: setiap malam Jumat, para penasehat pesantren berkumpul di ruang musyawarah kecil di samping ndalem kyai. Ruangan itu sederhana. Hanya ada tikar pandan, teko teh panas, beberapa gelas kusam, dan rak kitab yang mulai dimakan usia.

Bacaan Lainnya

Malam itu suasananya berbeda.

Kyai Salman, pengasuh pesantren, duduk termenung. Sorot matanya jauh. Jenggot putihnya bergerak perlahan ketika ia menarik napas panjang.

Di hadapannya duduk tiga penasehat pesantren: Ustaz Rahim, seorang guru tua yang terkenal sabar; Kang Mahfud, alumni pesantren yang kini menjadi pengusaha; dan Ustaz Syauqi, pengajar muda yang dikenal kritis.

“Pesantren ini mulai ramai,” kata Kang Mahfud sambil menyeruput teh. “Santrinya bertambah. Bangunannya juga makin luas.”

Kyai Salman tersenyum kecil.

“Ramai belum tentu hidup.”

Ucapan itu membuat ruangan mendadak hening.

Ustaz Syauqi mengangkat kepala. “Maksud, Yai?”

Kyai Salman memandang lampu gantung yang bergoyang kecil.

“Dulu,” katanya pelan, “santri datang membawa adab. Sekarang sebagian datang membawa target.”

“Target bagaimana?”

“Target cepat terkenal. Cepat jadi penceramah. Cepat viral.”

Ustaz Rahim mengangguk perlahan.

“Dan yang lebih berbahaya,” lanjut Kyai Salman, “kadang gurunya juga ikut tergoda.”

Hening kembali jatuh.

Hujan di luar mulai deras.

Kang Mahfud mencoba mencairkan suasana.

“Zaman memang berubah, Yai.”

“Betul,” jawab Kyai Salman. “Tapi hati manusia tetap sama. Tetap bisa kotor. Tetap bisa silau.”

Ia lalu mengambil kitab kecil di dekatnya.

“Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, ilmu tanpa kebersihan hati hanya akan melahirkan kesombongan.”

Ustaz Syauqi menunduk.

Di pesantren itu, beberapa bulan terakhir memang muncul banyak persoalan kecil. Ada guru yang mulai pilih kasih kepada santri kaya. Ada santri miskin yang jarang diperhatikan. Ada pula pengajar yang lebih sibuk mengurus undangan ceramah daripada memahami keadaan anak didiknya sendiri.

Masalahnya tampak sepele.

Namun bagi Kyai Salman, penyakit besar selalu lahir dari luka kecil yang dibiarkan.

“Guru itu bukan hanya pengajar,” katanya. “Guru adalah penjaga hati santri.”

Ustaz Rahim tersenyum samar.

“Kalau hati guru rusak,” lanjut Kyai Salman, “santri bisa kehilangan arah walaupun hafal ribuan bait kitab.”

Angin dingin masuk dari jendela yang sedikit terbuka.

Kang Mahfud lalu berkata, “Tapi kenyataannya sekarang semua butuh biaya, Yai. Kadang guru juga harus memikirkan hidup.”

“Benar,” jawab Kyai Salman cepat. “Islam tidak melarang guru menerima rezeki. Yang berbahaya itu ketika santri mulai dipandang berdasarkan isi dompet orang tuanya.”

Suasana kembali sunyi.

Kyai Salman lalu bercerita.

“Ada seorang santri bernama Malik,” katanya. “Ia datang ke pesantren ini lima tahun lalu. Bajunya lusuh. Sandalnya putus. Bahkan uang syahriyah pun sering terlambat.”

Ustaz Rahim langsung ingat.

“Yang sekarang jadi guru di Kalimantan itu?”

Kyai Salman mengangguk.

“Dulu banyak yang menganggap dia santri biasa. Pendiam. Tidak menonjol.”

“Lalu?” tanya Ustaz Syauqi.

“Suatu malam saya melihat dia tidur di masjid sambil memeluk kitab karena kamarnya bocor.”

Ruangan mendadak diam.

“Saya dekati dia,” lanjut Kyai Salman, “dan dia malah minta maaf karena takut dianggap merepotkan pesantren.”

Kang Mahfud menarik napas panjang.

“Keesokan harinya,” kata Kyai Salman, “saya panggil seluruh pengurus. Saya bilang: jangan pernah ukur kemuliaan santri dari uang sakunya.”

Ia memandang satu per satu para penasehat.

“Kadang Allah menyembunyikan wali-Nya di balik sarung yang robek.”

Kalimat itu membuat Ustaz Syauqi merinding.

Di luar, hujan mulai reda.

Tiba-tiba terdengar suara sandal tergesa dari arah dapur pesantren. Seorang santri kecil muncul di pintu.

“Maaf, Yai…”

“Masuk, Nak.”

Santri itu menunduk gugup.

“Ada santri baru menangis di belakang asrama.”

“Kenapa?”

“Katanya ingin pulang. Dia bilang tidak ada yang peduli padanya.”

Kyai Salman perlahan berdiri.

“Namanya?”

“Fikri, Yai.”

Tanpa banyak bicara, Kyai Salman berjalan keluar ditemani para penasehat.

Mereka melewati lorong asrama yang lembap. Beberapa santri masih menghafal nadzam di bawah lampu redup.

Di belakang asrama, seorang anak kurus duduk sambil memeluk lutut.

Usianya mungkin baru tiga belas tahun.

Kyai Salman duduk tepat di sampingnya tanpa bicara.

Beberapa menit hanya berlalu dengan suara tetesan air dari atap.

Lalu Kyai Salman berkata pelan, “Kamu rindu rumah?”

Anak itu mengangguk sambil menangis.

“Saya takut di sini, Yai.”

“Takut kenapa?”

“Takut tidak punya teman. Takut dimarahi. Takut tidak dianggap.”

Kyai Salman tersenyum lembut.

“Nak, pesantren bukan tempat mencari siapa yang paling hebat. Pesantren adalah tempat belajar menjadi manusia.”

Anak itu mulai tenang.

Kyai Salman mengusap kepalanya.

“Dan tugas guru bukan hanya mengajari kitab. Tapi memahami hati muridnya.”

Ustaz Rahim yang berdiri di belakang mulai berkaca-kaca.

Mereka kembali ke ruang musyawarah setelah Fikri diantar tidur.

Di dalam ruangan, suasana berubah lebih dalam.

Kang Mahfud berkata lirih, “Saya baru sadar, Yai. Kadang kita terlalu sibuk membangun gedung sampai lupa membangun hati.”

Kyai Salman mengangguk.

“Pesantren tidak akan runtuh karena temboknya retak.”

“Lalu karena apa?”

“Karena hati penghuninya mengeras.”

Ucapan itu menusuk diam-diam.

Ustaz Syauqi lalu bertanya, “Bagaimana cara guru menjaga hati?”

Kyai Salman tersenyum kecil.

“Dengan mengingat kenapa dulu menjadi guru.”

Ia melanjutkan,

“Kalau tujuan mengajar hanya mencari hormat, hati akan mudah kecewa. Kalau hanya mencari materi, hati akan cepat menghitung.”

“Lalu yang benar?”

“Menjadi guru karena ingin menemani manusia menuju Allah.”

Angin malam terasa makin dingin.

Kyai Salman lalu mengutip firman Allah:

“Yawma la yanfa’u malun wa la banun, illa man atallaha biqalbin salim.”

“Hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”

(QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Ia memandang para penasehat.

“Hati yang bersih itulah modal utama guru.”

Ustaz Rahim menambahkan pelan, “Karena ilmu paling sulit bukan menghafal kitab…”

“Tapi membersihkan niat,” sambung Kyai Salman.

Malam semakin larut.

Namun musyawarah belum selesai.

Kang Mahfud tiba-tiba tertawa kecil.

“Yai, saya jadi ingat istilah orang kampung.”

“Apa itu?”

‘Kyai malang, kyai bimbang.’”

Semua tersenyum.

“Maksudnya?” tanya Ustaz Syauqi.

Kang Mahfud menjelaskan, “Kyai yang terlalu sibuk mengejar dunia akhirnya bingung sendiri. Santri tidak lagi dekat dengan hatinya. Ilmunya banyak, tapi ketenangannya hilang.”

Kyai Salman tertawa lirih.

“Kadang bukan kyainya yang kurang ilmu.”

“Lalu?”

“Kurang membersihkan hati.”

Hening kembali hadir, tetapi kali ini terasa damai.

Lampu minyak di sudut ruangan mulai mengecil.

Sebelum musyawarah ditutup, Kyai Salman berkata:

“Jangan sampai pesantren hanya melahirkan orang pintar yang pandai bicara tapi miskin rasa.”

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Santri itu bukan angka. Bukan alat kebanggaan. Mereka adalah amanah.”

Suara beliau mulai bergetar.

“Kalau ada santri miskin, dekati. Kalau ada santri nakal, pahami. Kalau ada santri lemah, rangkul. Sebab boleh jadi kelak mereka lebih mulia daripada kita di hadapan Allah.”

Tak ada yang berbicara lagi.

Malam itu, para penasehat pulang membawa renungan panjang.

Dan sejak malam itu pula, ada kebiasaan baru di pesantren.

Para guru mulai lebih sering duduk bersama santri tanpa jarak. Mereka mendengar cerita anak-anak yang rindu rumah. Mereka memperhatikan santri yang diam-diam kesulitan makan. Mereka belajar memahami sebelum menghakimi.

Sebab mereka sadar:

Pesantren yang besar bukanlah pesantren dengan bangunan tertinggi, melainkan pesantren yang memiliki guru-guru berhati bening.

Dan Kyai Salman, di usianya yang senja, terus mengajarkan satu hal sederhana kepada para guru muda:

“Jagalah hati kalian. Karena santri bisa lupa isi pelajaranmu, tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *