Di sebuah aula kampus Islam yang berdiri di pinggir kota kecil bernama Darul Warna, para akademisi berkumpul dalam sebuah seminar nasional bertajuk “Masa Depan Lahan dan Ketahanan Pangan Umat.” Aula itu penuh dengan suara pendingin ruangan, aroma kopi hitam, dan tumpukan makalah yang lebih sering dibaca judulnya daripada isinya.
Namun hari itu berbeda.
Di layar besar terpampang foto sebidang tanah luas berwarna cokelat keemasan. Tanah itu baru dibuka dari semak belukar. Luasnya ribuan hektare. Pemerintah telah menyebutnya “lahan strategis masa depan.”
Pertanyaannya hanya satu:
Apa yang akan ditanam di sana?
Sebagian besar pejabat daerah menjawab cepat:
“Kelapa Sawit.”
Jawaban itu terdengar modern, ekonomis, dan menguntungkan. Sawit dianggap emas hijau. Banyak investor tertarik. Banyak laporan pertumbuhan ekonomi dapat ditulis karenanya.
Tetapi di sudut ruangan, seorang dosen tua bernama Dr. Muslim hanya diam sambil memutar tasbih kayunya.
Ia belum bicara.
Moderator seminar kemudian mempersilakan Profesor Ridwan, seorang ekonom pembangunan, untuk menyampaikan pendapat.
“Secara global,” katanya sambil menunjuk grafik, “permintaan minyak sawit meningkat. Jika daerah ini menanam sawit, maka dalam jangka panjang akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan.”
Beberapa peserta bertepuk tangan.
“Tentu,” lanjutnya, “memang butuh waktu lima sampai tujuh tahun untuk panen optimal. Namun investasi besar memang menuntut kesabaran besar.”
Seorang mahasiswa mencatat cepat.
Tetapi seorang ibu dari organisasi tani mengangkat tangan.
“Maaf, Profesor,” katanya pelan, “kalau rakyat lapar tahun ini, apakah mereka harus menunggu tujuh tahun?”
Ruangan mulai sunyi.
Profesor Ridwan tersenyum diplomatis.
“Kita harus berpikir jangka panjang.”
Ibu itu menunduk lagi.
Di belakang ruangan, Dr. Muslim mulai mengangkat kepala. Wajahnya teduh seperti petani yang terlalu lama berteman dengan hujan.
Ia meminta izin bicara.
“Kadang,” katanya perlahan, “masalah terbesar akademisi bukan kurang ilmu, melainkan terlalu jauh memandang langit sampai lupa melihat perut rakyat.”
Suasana langsung berubah hening.
Muslim melanjutkan:
“Lahan itu ibarat rahim ibu. Apa yang kita tanam di sana akan menentukan watak masyarakat beberapa tahun ke depan. Jika tanah subur hanya ditanami komoditas industri yang menunggu pabrik, maka rakyat kecil akan menjadi penonton di tanahnya sendiri.”
Seorang peserta menyela.
“Tapi sawit menghasilkan devisa besar, Doktor.”
Muslim mengangguk.
“Saya tidak menolak sawit. Saya hanya bertanya, kenapa sesuatu yang bisa memberi makan cepat justru dianggap rendah?”
Ia kemudian berjalan mendekati layar proyektor.
“Singkong,” katanya.
Beberapa orang tersenyum kecil, seolah mendengar kata yang terlalu sederhana untuk dibahas di forum ilmiah.
Muslim justru tersenyum balik.
“Lihatlah bagaimana kita memperlakukan singkong,” katanya. “Ia murah, mudah tumbuh, tidak perlu teknologi rumit, tidak harus menunggu pabrik besar, dan bisa langsung dimakan rakyat. Tapi karena terlalu dekat dengan rakyat kecil, ia dianggap tidak bergengsi.”
Seorang dosen muda tertawa kecil.
“Doktor ingin negara maju dengan singkong?”
Muslim menjawab tenang:
“Negara tidak pernah hancur karena terlalu banyak singkong. Negara hancur ketika rakyat lapar sementara elit sibuk menghitung keuntungan masa depan.”
Beberapa mahasiswa mulai mengangguk.
Muslim melanjutkan:
“Dalam Islam, kemaslahatan manusia lebih utama daripada kebanggaan statistik.”
Ridwan termenung dan memikirkan maknanya.
“Kelaparan,” kata Muslim, “adalah bentuk kebinasaan sosial paling awal. Orang lapar sulit mendengar ceramah moral. Orang lapar lebih mudah marah daripada berpikir.”
Seorang pejabat daerah mulai tampak gelisah.
“Tapi kita butuh investasi besar.”
Muslim mengangguk lagi.
“Betul. Tapi investasi terbaik bukan yang paling mahal. Investasi terbaik adalah yang paling cepat menyelamatkan manusia.”
Ruangan semakin sunyi.
Ia kemudian membuat analogi yang membuat seluruh peserta terdiam.
“Jika ada anak kecil tenggelam di sungai,” katanya, “kita tidak akan membangun kapal pesiar dulu. Kita lemparkan pelampung.”
Kalimat itu membuat beberapa peserta saling pandang.
“Singkong,” lanjutnya, “adalah pelampung pangan. Jagung adalah pelampung pangan. Ubi adalah pelampung pangan. Mereka sederhana, tetapi mampu menjaga rakyat tetap hidup.”
Seorang akademisi lain bernama Dr. Rohman mencoba memberikan kritik.
“Tapi pola pikir seperti itu terlalu tradisional.”
Muslim tersenyum tipis.
“Tradisional menurut siapa?”
“Menurut perkembangan zaman.”
Muslim menarik napas panjang.
“Zaman modern aneh,” katanya lirih.
“Ketika rakyat makan impor disebut kemajuan, tetapi ketika rakyat bisa makan dari tanah sendiri justru disebut keterbelakangan.”
Beberapa mahasiswa mulai berfikir sistematis.
Muslim melanjutkan:
“Islam mengajarkan keseimbangan. Bukan anti perdagangan. Tetapi kebutuhan dasar manusia harus diprioritaskan.”
Ia lalu membaca ayat lain:
“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” — QS. Al-Baqarah: 57
“Perhatikan,” katanya, “Allah mendahulukan makanan sebelum simbol kemewahan.”
Lalu ia menunjuk gambar sawit di layar.
“Pohon sawit itu seperti janji politik,” katanya sambil tersenyum pahit. “Tinggi, megah, penuh harapan, tetapi terlalu ribet dan aneh pengelolaannya.”
Salah seorang mahasiswa bernama Rohim bergumam pada dirinya dirinya. “Harapan yang dipalsukan.”
Kembali melanjutkan pembahasan, Muslim mulai dengan kata-kata penegasan.
“Siiingkong,” lanjutnya, “adalah ibu tua di desa. Tidak banyak bicara, tidak dipuji media, tetapi diam-diam menyelamatkan banyak perut.”
Kalimat itu dicatat serius oleh Rohim.
Moderator kemudian bertanya:
“Lalu menurut Doktor, apa solusi terbaik?”
Muslim menjawab:
“Tanamlah yang cepat memberi makan rakyat terlebih dahulu. Setelah kebutuhan dasar aman, itu bagian dari kemaslahatan.”
Ia berhenti sejenak.
“Jangan membangun menara ekonomi di atas perut kosong.”
Kalimat itu terasa seperti palu.
Di luar aula, hujan mulai turun perlahan.
Seorang mahasiswa bernama Hamzah kemudian bertanya:
“Doktor, kenapa banyak kebijakan justru lebih memilih sesuatu yang rumit daripada sederhana?”
Muslim tersenyum.
“Karena manusia sering terpesona oleh sesuatu yang sulit.”
“Padahal?”
“Padahal Allah sering menyelamatkan manusia lewat sesuatu yang sederhana.”
Ia kemudian memberi contoh bagaimana Nabi Musa diselamatkan dengan tongkat kayunya, Maryam digugurkan kurma dari pohon, dan Nabi Muhammad ﷺ membangun masyarakat bukan dengan istana, tetapi dengan kesederhanaan dan makanan yang dibagi bersama.
“Kesederhanaan,” kata Muslim, “Akan menghidupkan sinar peradaban. Tanda sebagai Negara yang berfikir kritis.”
Seminar semakin hidup.
Beberapa akademisi mulai mendiskusikan konsep pangan mandiri. Ada yang mengusulkan pola tanam campuran. Ada yang mulai mempertanyakan ketergantungan pada industri besar.
Tetapi Muslim kembali mengingatkan:
“Jangan sampai rakyat hanya dijadikan buruh di tanahnya sendiri.”
Seorang petani muda yang sejak tadi diam tiba-tiba berdiri.
“Saya tidak sekolah tinggi,” katanya, “tapi saya tahu satu hal. Sawit tidak bisa direbus malam ini untuk anak lapar.”
Ruangan langsung senyap.
Petani itu melanjutkan:
“Kalau singkong, cabut sore ini, malam bisa dimakan.”
Semuanya terdiam, dan hati nuraninya mulai berbisik.
Karena kadang kalimat paling ilmiah lahir dari orang yang paling dekat dengan tanah.
Muslim memandang petani itu dengan mata berkaca.
“Itulah ilmu hidup,” gumamnya.
Lalu ia menutup seminar dengan satu kalimat yang lama diingat para peserta:
“Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah amanah Allah untuk menjaga kehidupan manusia.”
Ia kemudian membaca firman Allah:
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” — QS. Hud: 61
“Maksud memakmurkan bumi,” kata Muslim, “bukan hanya memperkaya laporan pertumbuhan, tetapi memastikan tidak ada manusia yang tidur dalam kelaparan.”
Hujan di luar semakin deras.
Para peserta seminar pulang dengan pikiran yang penuh kesederhanaan.
Sebagian mulai memahami bahwa masa depan tanpa pangan hanyalah kemewahan yang rapuh.
Dan di sudut aula yang mulai kosong, Dr. Muslim kembali memutar tasbihnya perlahan.
Seolah sedang mengingatkan bahwa menyelamatkan negeri tidak harus dimulai dari proyek raksasa. Namun tidak terkelola secara nyata.
Hanya cukup dari keberanian untuk berkata:
“Rakyat lapar tidak bisa menunggu terlalu lama.”







